Kis 2:1-11; 1Kor 12, 3b-7, 12; Yoh 14:5-16,
23b-26
Hari ini, kita
merayakan Pentakosta, yang artinya adalah hari yang kelima puluh. Maka, Hari
Raya Pentakosta, dirayakan pada hari yang kelima puluh setelah Paskah. Dalam
tradisi Pernjanjian Lama, pada mulanya Pentakosta merupakan pesta panen yang
dirayakan oleh umat Israel setelah mereka menetap di Kanaan pasca pembebasan
dari Mesir. Pesta panen ini diadakan selama 7 Minggu, dan pada hari yang kelima
puluh, mereka mempersembahkan korban sajian sebagai ungkapan syukur dan
persembahan kepada Tuhan (Im 23:4-24).
Dalam
perkembangan selanjutnya, Pentakosta diangkat menjadi pesta liturgis dan
maknanya ditarik jauh ke belakang, yaitu ke masa pengembaraan di padang gurun,
tepatnya peristiwa penampakan Allah kepada Musa di Gunung Sinai di mana pada
saat itu, diturunkan juga Sepuluh Perintah Allah. Dengan demikian, Pentakosta
dimaknai sebagai pesta peringatan atas pembaruan janji Allah dengan umat Israel
melalui turunnya Sepuluh Perintah Allah di Sinai(2Kor 15:10-13; bdk. Kel
19:16-20; Ul 5:4-5).
Bagi Gereja yang
telah mengalami pembaruan perjanjian dalam diri Yesus, Pentakosta merupakan
peringatan atas turunnya Roh Kudus kepada para murid, sebagaimana dikisahkan
dalam bacaan pertama (Kis 2:1-11). Pada hari Pentakosta itu, Roh Kudus turun
dalam rupa lidah-lidah api dan hinggap pada masing-masing (ay.3). Jadi, Roh
Kudus merupakan anugerah yang menyentuh masing-masing pribadi, orang per orang,
sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Kepada masing-masing orang,
Roh Kudus yang satu dan sama memberikan karunia yang berbeda-beda, namun
dimaksudkan untuk kepentingan bersama (bdk. 1Kor 12:1-11).
Gambaran
lidah-lidah api yang digunakan sebagai tanda turunnya Roh Kudus menunjukkan
bahwa karunia Roh Kudus itu merupakan daya ilahi yang mengobarkan semangat
hidup dalam beriman, bersaksi, bersekutu, dan melayani sebagaimana yang terjadi
dalam diri para murid. Kita tahu bahwa setelah menerima anugerah Roh Kudus,
para murid menjadi semakin beriman dan percaya kepada Yesus sebagai penyelamat
(Kis 2:14.21-22). Mereka menjadi tidak takut tetapi dengan penuh keberanian
bersaksi dan mewartakan bahwa Yesus telah bangkit (Kis 2:23-24) serta mengajak
orang-orang untuk bertobat supaya diselamatkan (Kis 2:28-40). Mereka juga
semakin giat mewujudkan persekutuan hidup bersama (Kis 2:41-43.46) dan
mengembangkan solidaritas serta pelayanan kasih (Kis 2:44-45).
Roh Kudus, yang
dikaruniakan kepada para murid, lima puluh hari setelah Paskah, sampai sekarang
juga dianugerahkan kepada kita masing-masing, orang per orang. Kapan Roh Kudus
itu dicurahkan kepada kita? Secara istimewa adalah pada saat kita menerima
sakramen baptis (Kis 2:38) dan penumpangan tangan dalam sakramen penguatan (Kis
8:16-17; 19:5-6). Dalam setiap Ekaristi, Roh Kudus juga hadir untuk menyucikan
seluruh umat dan menguduskan roti-anggur menjadi tubuh dan darah Kristus (bdk.
DSA). Bahkan, setiap saat, Roh Kudus senantiasa dicurahkan kepada kita untuk
membimbing kita supaya kita mampu hidup baik dan berjalan di jalan Tuhan.
Roh Kudus yang
dicurahkan kepada kita tersebut, menjadikan kita sebagai anak Allah sebagaimana
ditegaskan oleh Paulus dalam bacaan pertama (Rm 8:8-17). Sebagai anak Allah,
kita telah menjadi ahli waris Allah, yakni keselamatan yang diaanugerahkan
dalam Kristus (ay.17). Sebagai anak Alah, tentu saja kita tidak boleh hanya
bangga karena menjadi ahli waris keselamatan, tetapi kita juga harus hidup
secara pantas sebagai anak Allah yang selalu berbakti dan mbangun
miturut pada Allah, Bapa kita. Untuk menghayati hidup yang pantas
sebagai anak Allah, Roh Kudus juga senantiasa membantu kita sebagaimana
ditegaskan Yesus dalam Injil, “Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam
nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan
mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26).
Tentu saja, Roh
Kudus tidak hanya mengajar dan mengingatkan kita akan sabda dan kehendak Tuhan,
tetapi juga mengobarkan semangat kita dalam beriman, bersaksi, bersekutu, dan
melayani sebagaimana dialami oleh para murid pasca peristiwa Pentakosta. Roh
Kudus membantu kita untuk semakin beriman mendalam dan tangguh, untuk tidak
takut menghadapi tantangan dan kesulitan hidup, untuk terus bersaksi dan
mewartakan iman kita dalam perkataan maupun tindakan, dan juga untuk
mengembangkan solidaritas dan pelayanan kasih kepada sesama.
Sumber:sini